Rabu, 28 Agustus 2013

pejabat berhak melegalisir ijazah

Siapa yang berwenang legalisir ijazah/STTB  ?
Ketentuan tentang Pejabat yang berwenang mengesahkan foto copy ijazah/STTB terdapat di :
Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara No. 11 tahun 2002, Lampiran 1a
PEJABAT YANG BERWENANG
MENGESAHKAN FOTO COPY IJAZAH / STTB
NO
JENJANG PENDIDIKAN
YANG
MENGELUARKAN DAN
MENANDATANGANI
IJAZAH ASLI
YANG MENGESAHKAN
MELEGALISIR FOTO
COPY
1
2
3
4
1
SDSLTPSMUSMK
DAN YANG SETINGKAT

KEPALA SEKOLAH YANG       BE RSANGKUTANKEPALA SEKOLAH YANG BERSANGKUTANKEPALA/KABAG/KABID/ KASUBDIN ATAU YANG SETINGKAT DAN BERKOMPETEN PADA DINAS PENDIDIKAN DAN KANTOR DEPAG KAB / KOTA
2
UNIVERSITAS / INSTITUTREKTOR DAN DEKANREKTOR / DEKAN / PEMBANTU DEKAN BIDANG AKADEMIK
3
SEKOLAH TINGGIKETUA DAN PEMBANTU KETUA BIDANG AKADEMIKKETUA / PEMBANTU KETUA BIDANG AKADEMIK
4
AKADEMI POLITEKNIKDIREKTUR DAN P EMBANTU DIREKTUR B IDANG AKADEMIKDIREKTUR/PEMBANTU DIREKTUR BIDANGAKADEMIK
5
PT AGAMA ISLAMPIMPINAN KOPERTISPEJABAT YANG BERWENANG DAN BERKOMPETEN PADA KOPERTIS
6
PTS AGAMA HINDU/BUDHA/ KRISTEN/KATHOLIKKETUA/DIREKTUR URUSAN DAN DIREKTUR BIMAS URUSAN AGAMA YANG BERSANGKUTANKABID BIMAS AGAMA YANG BERSANGKUTAN PADA KANWIL AGAMA / KAKANDEP AGAMA KAB KOTA DAN DIREKTUR.SEKRETARIS DITJEN BIMAS YANG BERSANGKUTAN
 7
SEKOLAH /AKADEMI/PT. KEDINASANPIMPINAN SEKOLAH / AKADEMIK PT. KEDINASAN YANG BERSANGKUTANKEPALA SEKOLAH/KETUA/ DIREKTUR AKADEMI ATAU PT. YANG BERSANGKUTAN.KAPUSDIKLAT/KABID YANG BERKOMPETEN
Khusus Untuk lulusan luar negeri legalisir ijazah dan transkrip nilai dilakukan oleh Perguruan Tinggi Luar Negeri yang bersangkutan atau oleh atase pendidikan KBRI di negara tempat ijazah diperoleh. Ketentuan ini terdapat di Lampiran ( Pendahuluan bagian A ) Peraturan Dirjen Dikti82/Dikti/Kep/2009 tentang Pedoman penilaian ijazah lulusan Perguruan Tinggi Luar Negeri
>>>
Bagaimana bila sekolah asal sudah tutup ?
Apabila satuan pendidikan yang mengeluarkan ijazah/STTB sudah tidak beroperasi atau ditutup, pengesahan fotokopi ijazah/STTB, surat keterangan pengganti yang berpenghargaan sama dengan ijazah/STTB dilakukan oleh Koordinator Kopertis (bagi PTS),kepala dinas (bagi sekolah dasar dan menengah) yang membidangi pendidikan di kabupaten/kota yang bersangkutan.
Produk Hukum Terkait:
1, Permendiknas no. 59 Tahun 2008  pasal 3 ayat 2
2.  Surat Edaran Dirjen Dikti 1317/D5.1/T/2007  tentang  Legalisasi Foto Copy Ijazah dan
3. Surat Edaran 2481/E/T/2003 tentang Optimalisasi Tugas dan Fungsi Kopertis
Sekian semoga bermanfaat,

Jumat, 16 Agustus 2013

serelo


Selasa, 13 Agustus 2013

My Family's

http://id.picjoke.net/process.php?clipart_id=936&date=2013-08-13&picname=10-id-abaaedbcb86b616d7be1a89983ca946a.gif


Kamis, 08 Agustus 2013



Assalammualaikum Wr Wb,
 
Saat ku berjanji mungkin pernah ku ingkari. 

Saat ku berkata mungkin pernah ku berdusta.

Saat ku bercanda mungkin pernah membuat hati Terluka.

kadang tercipta dosa dlm tawa,
kadang sepenggal kata men0reh luka,

sebentuk hati kadang penuh prasangka.

kadang manisnya kata menebar fitnah,

Kadang terbersit Luka dlm canda,
dari hati yg tak selalu suci,
dari ego yg tak mudah dimengerti,
dan dari emOsi yg tak terkendali.

Memaafkan tak selalu Berjabat tangan,
Namun jabat Hati mampu Menembus jarak & Waktu.

Karna Idul Fitri sdh tiba,
memaafkan adalah anugrah yg Paling terindah,

MOHON MAAF LAHIR BATHIN.

Harun Samsudin & Kelrg

Sabtu, 13 Juli 2013

Implikasi Manajerial


Menurut kamus besar Bahasa Indonesia , kata implikasi berarti akibat . kata impplikasi sendiri dapat merujuk ke beberapa aspek yaitu salah satunya yang dibahas saat ini adalah manajerial atau manajemen 

Teori X dan Y
Teori ini dikemukakan oleh Douglas Mc. Gregor (1967) yang memiliki pandangan yang berbeda terhadap manusia yaitu pada dasarnya manusia bersifat negative (Teori X) dan bersifat positife (Teori Y) Mc. Gregor menyimpulkan bahwa pandangan seorang manajer tentang sifat manusia didasarkan pada pengelompokan asumsi tertentu dan manajer tersebut cenderung membentuk perilakunya terhadap bawahan sesuai dengan asumsi tersebut . Dalam
Teori X terdapat empat asumsi , yaitu diantaranya :
1. bawahan tidk suka bekerja dan bilamana mungkin  akan berusaha menghindarinya 
2. karena bawahan tidak suka bekerja , mereka harus dipaksa , dikendalikan atau diancam dengan hukuman
3. bawahan akan mengelak tanggung jawab dan sedapat mungkin hanya mengikuti perintah formal
4. kebanyakan bawahan mengutamakan rasa aman (agar tidak ada alasan untuk dipecat ) dan hanya menunjukan sedikit ambisi 
sedangkan , dalam teori X diasumsikan bahwa :
1. bawahan memandang bahwa pekerjaan sama alamiyahnya dengan istirahat dan bermain
2. seseorang yang memiliki komitmen paada tujuan akan melakukan pengarahan dan pengendalian diri
3. seseorang yang biasa-biasa saja dapat belajar untuk menerima , bahkan mencari tanggung jawab
4. kreativitas yaitu kemampuan untuk membuat keputusan yang baik (pendelegasian wewenang dan tanggung jawab)

Implikasi Terhadap Sistem Komunikasi Organisasi 


Teori ini memusatkan bagaimana seorang pemimpin memotivasi orang-orang dengan tipe  dan y sehingga mampu berkontribusi dalam suatu organisasi . Tipe X yang cenderung malas bekerja dan menyukai diperintah, mungkin akan membutuhkan saluran komunikasi yang formal , dimana pemimpin dapat menginstruksikan berbagai perintah secara formal . berbeda dengan tipe Y , antara pemimpin dengan bawahan akan lebih sering berkomunikasi secara informal atau partisipatif . hal ini dilakukan karena kedua belah pihak sudah saling memahami dan bawahan memiliki pengalaman yang sudah baik . 
Motivasi yang diberikan kepada tipe x , mungkin akan cenderung dengan pemberian hukuman yang tegas sehingga berbagai peraturan tertulis sebagai media komunikasi akan sangat dibutuhkan . sedangkan untuk tipe y , komunikasi akan sangat mempengaruhi karena motivasi yang diberikan lebih cenderung kepada aktualisasi diri untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan atau kebijakan dalam organisasi .


Teori Kepemimpinan Situsional
Teori ini dikemukakan oleh Paul Hersey dan Keneth H. Blachard (1974 -1977) teori ini merupakan pengembangan dari penelitian kepemimpinan yang diselesaikan di ohio state University (stogdill dan Coons,1957) teori ini berasumsi bahwa pemimpin yang efektif tergantung pada kematangan bawahan dan kemampuan pemimpin untuk menyelesaikan orientasinya , baik orientasi tugas maupun hubungan kemanusiaan . taraf kematangan bawahan terentang dalam suatu kontinum dari immatery ke maturity . semakin dewasa bawahan , semakin matang individu atau kelempok untuk melakukan tugas atau hubungan . 

dalam kepemimpinan situsional ini , Hersey dan Blanchard mengemukakan empat gaya sebagai berikut :
~ Telling (S1) yaitu perrilaku pemimpin dengan tugas tinggi dan tugas rendah . gaya ini mempunyai ciri komunikasi satu arah dimana pemimpin yang berperan
~ Selling (S2) perilaku dengan tugas tinggi dan hubungan tinggi . kebanyakan pengarahan masih dilakukan oleh pemimpin tetapi sudah mencoba komunikasi dua arah dengan dukungan sosioemocional supaya bawahan turut bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan .
~ Participating (S3) yaitu perilaku hubungan tinggi tugas rendah . pemimpin dan bawahan sama-sama memberikan kontribusi dalam mengambil keputusan melalu komunikasi dua arah dan yang dipimpin cukup mampu dan berpengalaman untuk melaksanakan tugas .
~ Delegating (S4) yaitu perilaku hubungan dan tugas rendah . gaya ini memberikan kesempatan kepada yang dipimpin untuk melaksanakan tugas mereka sendiri melalui pendelegasian dan supervise yang bersifat umum . yang dipimpin adalah orang yang sudah matang dalam melaksanakan tugas dan matang pula secara psikologis.

dalam kepemimpinan situsional yang dikembangkan menjadi 4 bagian , membutuhkan komunikasi karena pada dasarnya kepemimpinan mempengaruhi orang. dalam kepemimpina ini , Delegating dengan tugas dan perilaku rendah menadi aspek yang paling disukai karena apabila bawahan memiliki tingkat kesiapan yang tinggi maka ada kebebasan dan kepercayaan dari pemimpin untuk berpartisipasi .

Tipologi Kepemimpinan


Dalam praktiknya, dari ketiga gaya kepemimpinan tersebut berkembang beberapa tipe kepemimpinan; di antaranya adalah sebagian berikut (Siagian,1997).

1. Tipe Otokratis.
Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut: Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi, Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi, Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata, Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat, Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya, Dalam tindakan pengge-rakkannya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.

2. Tipe Militeristis
Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan, Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya, Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan, Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan, Sukar menerima kritikan dari bawahannya, Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.

3. Tipe Paternalistis.
Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut : menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa, bersikap terlalu melindungi (overly protective), jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan, jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif, jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya, dan sering bersikap maha tahu.

4. Tipe Karismatik.
Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. Gandhi bukanlah seorang yang kaya, Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat, John F Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Mengenai profil, Gandhi tidak dapat digolongkan sebagai orang yang ‘ganteng”.

5. Tipe Demokratis.
Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut : dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia, selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya, senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya, selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan, ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain, selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya, dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
Secara implisit tergambar bahwa untuk menjadi pemimpin tipe demokratis bukanlah hal yang mudah. Namun, karena pemimpin yang demikian adalah yang paling ideal, alangkah baiknya jika semua pemimpin berusaha menjadi seorang pemimpin yang demokratis.

sumber:
http://elqorni.wordpress.com/2008/04/24/perkembangan-paradigma-kepemimpinan-gaya-tipologi-model-dan-teori-kepemimpinan/

Jumat, 14 Juni 2013

Instrumen Pendataan PAUDNI 2012

Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Dijen PAUDNI) tengah melakukan pendataan untuk tahun 2012, baik satuan pendidikan maupun PTK (Pendidik dan Tenaga Kependidikan).


Manfaat Pendataan
Manfaat dari penjaringan dan terintegrasi (on-line) data PAUDNI adalah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengumpulan data yang tersebar di seluruh Indonesia dalam satu pintu pendataan yang dipusatkan di Setditjen PAUDNI. Pemanfaatan data yang terkumpul adalah untuk mendukung perencanaan, pembinaan, dan evaluasi tentang pelaksanaan program Kemdikbud maupun oleh unit lain terkait yang tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Selain itu pemanfaatan data tersebut antara lain:
  1. Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) untuk peserta didik PAUD, kursus, keaksaraan;
  2. Tunjangan pendidik dan insentif PTK PAUDNI;
  3. Sertifikasi pendidik PAUDNI;
  4. Akreditasi Lembaga dan program-program PAUDNI.

Sasaran pendataan meliputi:
  1. PAUD
  2. Kursus dan Pelatihan
  3. PTK PAUDNI
  4. Pendidikan Masyarakat (PKBM/TBM)
Data yang harus diisikan pada formulir pendataan adalah sebagai berikut:
1.    Instrumen PAUD
a.   Identitas Lembaga PAUD
1)      NPSN (Nomor Pokok Satuan PAUD Nasional)
2)      Nama Satuan PAUD
3)      Jenis Satuan PAUD
4)      Status Satuan PAUD
5)      Status Kepemilikan
6)      Nama Yayasan/Badan hukum
-    Nomor Akte Pendirian
-    Kelompok Yayasan
7)      Tanggal/Bulan/Tahun Berdiri
8)      Alamat Satuan PAUD
9)      Data Rekening Bank atas nama lembaga/Satuan PAUD
10)  NPWP atas nama lembaga/Satuan PAUD
11)  Perijinan Satuan PAUD
-    Nomor Perijinan
-    Dikeluarkan oleh
12)  Akreditasi, Nomor SK Akreditasi terakhir
13)  Sumber Pendanaan Utama
14)  Kepemilikan Bangunan
15)  Luas tanah dan luas bangunan
16)  Jumlah ruang belajar dan luas keseluruhan ruang belajar
17)  Jenis Fasilitas lainnya
18)  Kondisi Bangunan
19)  Kekuatan Bangunan
20)  Waktu Penyelenggaraan
21)  Kedudukan dalam Gugus PAUD

b.     Data Pengelola   
1)      Nama Lengkap
2)      Jabatan
3)      Pendidikan Terakhir
4)      NISN
5)      Jenis Kelamin
6)      Pelatihan

c.       Data Pendidik
1)      Nama Lengkap
2)      Tempat/Tanggal Lahir
3)      Agama
4)      Pendidikan Terakhir
5)      Diklat PAUD
6)      Jenis Kelamin
7)      Status Kepegawaian
8)      Pengalaman Mengajar
9)      NUPTK, jika sudah memiliki
10)  NISN
11)  Sertifikasi
12)  Tunjangan
  1. Jumlah Tenaga Ahli       
  2. Jumlah Peserta Didik      
  3. Frekuensi Layanan PAUD  
  4. Sarana     
  5. Layanan Kesehatan dan Gizi
  6. Program Parenting
  7. Bantuan sosial dan bantuan lain          
  8. Daftar Nama Peserta Didik        
-          Nama Lengkap
-          Jenis Kelamin
-          Tempat Tanggal Lahir
-          NISN
-          Nama Ibu Kandung
-          Berkebutuhan Khusus
-          Agama
-          Pekerjaan Ortu
-          Alamat
-          Jarak Tempat Tinggal ke Sekolah

2.      Instrumen Kursus dan Pelatihan
a.      Identitas Lembaga
1)         Nama Lembaga
2)         SK/Izin Pendirian Lembaga
3)         Status Kepemilikan Lembaga
4)         Bentuk Lembaga
5)         Hasil Penilaian Kinerja Lembaga
6)         Akreditasi Lembaga
7)         Klasifikasi Lembaga
8)         Status Bangunan
9)         Penanggung Jawab Lembaga
10)     Sertifikat Pelatihan

b.      Program Kursus                                                              
1)         Program kursus yang diselenggarakan
2)         Izin Penyelenggaraan Program Kursus
3)         Akreditasi Program
4)         Kurikulum yang digunakan
5)         Bahan ajar yang digunakan
6)         Lama Pembelajaran
7)         Sarana pembelajaran yang dimiliki
8)         Biaya perpaket/level/tingkat sampai lulus
9)         Jenis uji kompetensi yang diikuti
10)     Unsur Peserta didik
11)     Jumlah peserta didik regular
3.  Instrumen PTK PAUDNI       
a.   Indentitas Lembaga
1)      Nama Instansi/Lembaga
2)      Jenis Instansi/Lembaga
3)      Status Kelembagaan
4)      NILEM/NILEK
5)      Alamat lembaga
6)      Nama Pimpinan
7)      Tanggal Pendirian
8)      Status kepemilikan
9)      Akreditasi
10)  Jumlah Tenaga Kependidikan/Pengelola
11)  Jumlah Pendidik
12)  Nama Yayasan
13)  Alamat Yayasan
14)   Jumlah kelas
15)  Jumlah Rombel
16)  Jumlah Peserta didik
b.      Identitas PTK PAUDNI
1)      Nama Lengkap
2)      Jenis Kelamin
3)      NIY/NIK
4)      NUPTK
5)      NISN
6)      Pendidikan terakhir
7)      Jurusan
8)      Tempat, tanggal lahir
9)      No. KTP
10)  Nama Bank, Alamat Bank,  Rekening Atas Nama Pribadi
11)  NPWP
12)  Agama
13)  Jenis PTK PAUDNI
 4.      Instrumen Pendidikan Masyarakat
  1. Identitas Lembaga PKBM
1)      Nama Lembaga PKBM
2)      Nomor Induk Lembaga (NILEM)
3)      Alamat Lembaga PKBM
4)      Kategori wilayah
5)      No telpon dan faximili
6)      Akses internet : alamat email, website
7)      Status Lembaga PKBM
8)      Status kepemilikan dan izin pendirian lembaga PKBM
9)      Izin operasional Lembaga PKBM dan instansi pemberi izin
10)  Klasifikasi lembaga
11)  Akreditasi, SK Akreditasi
12)  Nomor Rekening Bank, Nama Bank, Rekening Atas Nama Lembaga
13)  Jenis Program yang dilaksanakan
14)  Jumlah tenaga kependidikan/pengelola
15)  Jumlah tenaga pendidik
16)  Luas tanah
17)  Jumlah bangunan dan luas bangunan
18)  Nama yayasan/ormas/lainnya
19)  Sumber  dan daya listrik
20)  Ruangan dan Sarana
21)  Bantuan/Blockgrant.
  1. Identitas  TBM
1)      Nama  TBM
2)      Alamat  TBM
3)      No telpon dan faximili
4)      Akses internet: alamat email dan website
5)       Status kepemilikan
6)      Nomor Rekening Bank, Nama Bank, Rekening Atas Nama Lembaga
7)      Jumlah pengelola
8)      Luas  tanah
9)      Jumlah bangunan  dan luas bangunan
10)  Identitas lembaga induk
11)  Sumber dan daya listrik
12)  Ruangan dan Sarana
13)  Bantuan/Blockgrant
Dokumen untuk diunduh:
  1. Instrumen PAUD
  2. Instrumen Kursus dan Pelatihan
  3. Instrumen PTK PAUDNI
  4. Instrumen Pendidikan Masyarakat (PKBM/TBM)
Untuk mulai mengunduh formulir, silakan klik di sini